Berlokasi di Kampung Buni Pasar Emas, telah banyak ditemukan barang arkeolog. Nilai barang arkeolog memiliki nilai sejarah zaman prasejarah, zaman Kebudayaan Buni. Kebudayaan Buni yang dikenal sebagai tempat keramaian manusia, diantaranya pasara tumbuh disana.
Penemuan barang arkeolog tersebut booming pada tahun 50-an. Penemuan pertama pada tahun 1958 ditemukan oleh Dogol, warga disana. Sebelumnya banyak ditemukan barang-barang keramik dan emas. Membuat akhirnya banyak petukaran emas pada saat itu, walaupun kini emas sudah jarang ditemukan. Untuk mengenang hal itu, maka kampung tersebut dinamakana Kampung Buni Pasar Emas.
Mengenai penemuan barang lainnya. Ditemukan perhiasanan, tempikar, dan tulang-belulang. Tempikar sendiri terdiri dari neolit dan perundagian. Tempikar neolit ditandai oleh tahap berukir dengan pola hias anyaman keranjang dan duri ikan.
Penelitian Situs Buni pertama kali dilakukan pada tahun 1960 oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN). Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan barang-barang arkeolog dan situs dari gangguan penduduk, juga menemukan situs-situs yang masih utuh. Kemudian Survey berlanjut pada tahun 1964, 1969, dan 1970.
Akhirnya sebagian barang arkeolog disana tersimpan pada Museum Nasional. Tapi beberapa barang telah hilang karena dijual keluar negeri, juga perusakan dari pihak industri pabrik sekitar. Pabrik-pabrik melakukan eksploitasi besar-besar minyak tanah dan gas bumi tanpa peduli lingkungan. Kini pula, peradaban Buni yang kaya tidak seimbang dengan zaman sekarang. Banyak masyarakat Kampung Buni masuk dalam kategori Pra Sejahtera.
referensi sejarah: