Saung Ranggon

Cikarang Selatan, Cikedokan, Cikarang Barat
Saung Pelarian Pangeran Jayakarta

Sebagai cagar budaya nasional, berlokasi di Desa Cikedokan. Saung Ranggon menjadi tempat enak dikunjungi dan dinikmati suasanya, dengan daerah arsi dan suasanya pegunungan masih terasa. Sambil mendengar burung saling bersahutan, membuat perasaan lebih damai. Dibalik Saung Ranggon berada, menyimpan kisah diantaranya.

Berawal dari abad ke 16, dibangun oleh Pangeran Rangga dari kerajaan Jayakarta. Saung Ranggon difungsikan sebagai leuit, dari bahasa sunda yang berarti tempat persedian beras setelah panen. Sesuai dengan adat kebiasaan sunda, Saung Ranggon dibangun dengan ketinggian tiga atau empat meter. Hal ini berfungsi dari gangguan binatang buas pada saat itu.

Secara pembangunan, Saung Ranggon berdiri di atas tanah seluas 500 m2. tanahnya ditimbun bebatuan kecil untuk jalan dan halaman. Ukuran bangunan seluas 7,6 m x 7,2 m dan tinggi 2,5 m. Dengan berbahan kayu besi atau ulin, membuat bangunan ini awet. Juga mendirikannya dengan pasak bukan paku, karena pakunya bisa bengkok.

Dalam sejarah lainnya, Saung Ranggon digunakan untuk pelarian Pangeran Jayakarta dari kekalahan dari VOC. Maka dibangunlah Saung Ranggon yang jauh dari Jayakarta, agar sulit ditangkap VOC. Awalnya sebagai tempat menyepi dan pelarian, menjadi bagian dari basis perlawanan masyarakat Bekasi terhadap kolonial Hindia Belanda.

referensi artikel web: